Senin, 03 Juni 2013

PERBEDAAN PERAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM PENGAPLIKASIAN DI BEBERAPA MASJID YOGYAKARTA

PERBEDAAN PERAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM PENGAPLIKASIAN DI BEBERAPA MASJID YOGYAKARTA
MATA KULIAH: GENDER DAN KEADILAN SOSIAL
DOSEN PENGEMPU: SITI SAMSIATUN



DISUSUN OLEH:
RODI
11230038

FAKULTAS DAKWAH
PROGRAM STUDI: PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SUNAN KALI JAGA YOGYAKARTA
2013




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang memilih topik ini
Sumber daya manusia yang paling menentukan di dalam kepengurusan sehari-hari sebuah masjid adalah takmir masjid, dan pasti imam masjid. Untuk itulah perlu kegiatan peningkatan mutu SDM. Kegiatan ini harus berkala dan terus-menerus.
Prioritas utama adalah takmir masjid dan imam, baru diikuti tim pengelola dan lain-lain. Kenapa prioritas utama adalah takmir? Karena dia (mereka) lah yang menjalankan mandat kegiatan sehari-hari masjid. Sehingga mereka pasti harus mengetahui ilmunya terlebih dahulu.
Sedangkan imam, pasti dia harus menguasai ilmu-ilmu terutama shalat, dan lain-lainnya. Imam biasanya adalah juga takmir masjid. Namun di banyak masjid, ada imam yang pasif dalam kepengurusan rutin. Dalam kondisi demikian, antara imam dan takmir harus dibedakan. Imam adalah tim pengelola, sedangkan takmir adalah pengurus harian.
Selama ini yang kita lihat sebagian besar takmir adalah laki-laki, dan perempuan hanya sebagian kecilnya saja. Sebenarnya ada apakah dibalik semua hal tersebut? Dan apa yang menjadi prioritas utama perekrutan takmir masjid? Dengan adanya mini penelitian ini kita dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kegiatan ini juga merupakan upaya peningkatan mutu SDM pengurus masjid. Tanpa itu, masjid akan mati dengan sendirinya begitu pendiri atau takmir masjid meninggal dunia.
Supaya kita mengetahui mengapa kebanyakan takmir adalah laki-laki.Maka kami melakukan wawancara untuk memastikan atau mengetahui alasan mengapa perekrutan takmir sebagian besar adalah laki-laki,dan takmir perempuan hanya sebagian kecil saja dan cenderung jarang.
Apa perbedaan peran dasar laki-laki dan perempuan untuk menjadi takmir.
Perbedaan antara peran laki-laki dan perempuan,kalau laki-laki bisa melakukan segala kegiatan yang ada dimasjid  dan  kita dapat mengetahui semua agenda yang ada dimasjid bisa dihandel takmir laki-laki jika pengisi masjid berhalangan untuk hadir.Sedangkan untuk takmir perempuan kegiatanya lebih banyak ke kegiatan perempuan saja misalnya pengajian ibu-ibu atau mengajar TPA.
Mencari tahu masjid mana yang menerima takmir perempuan
Dalam observasi ini kita dapat mengetahui dimana saja masjid yang menerima takmir perempuan dan dapat mengetahui syarat-syarat dimasjid tersebut mengenai perekrutan takmir yang ada dimasjid tersebut.
                       
B.     Apa pentingnya  topik tersebut
1.      Mengetahui peran takmir pada masjid dengan komunitas yang berbeda
2.      Bagaimana peran takmir laki-laki dan perempuan menurut persfektif gender didalam komunitas yang berbeda
       
C.     Lokasi penelitian dan waktu penelitan tgl 14-23 mei 2013

1.      Masjid Darusalam (Manisrejo, Maguwoharjo, Kalasan Sleman/NU)
2.      Masjid Al-ikhlas (Samirono/NU)
3.      Masjid Safinaturrahmah (Sapen/Muhammadiyah)
4.      Masjid Al-wafa (Bantul/Muhammadiyah)





BABII
METODE PENGUMPULAN DATA
A.    Populasi dan Sampel
Data terpilah (laki-laki dan perempuan)
JUMLAH TEMPAT IBADAH, PERPUSTAKAAN MASJID, LEMBAGA DAKWAH,
MAJELIS TAKLIM DAN RADIO DAKWAH MENURUT KABUPATEN/KOTA
DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
TAHUN 2010




















NO.
KABUPATEN/   KOTA
TEMPAT IBADAH
PERPUST. MASJID
LEMBAGA DAKWAH
MAJELIS TAKLIM
RADIO DAKWAH
MASJID
LANGGAR
MUSHOLLA
JUMLAH
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
(10)
1
 Yogyakarta
            440
                 -
            410
            850
            321
              31
            802
                7
2
 Bantul
         1.484
         1.284
            435
         3.203
            546
              19
         2.067
                2
3
 Kulonprogo
            959
            406
            414
         1.779
            304
            121
            556
                3
4
 Gunungkidul
         1.630
            415
            581
         2.626
            475
              18
         1.300
                 -
5
 Sleman
         1.888
         1.050
            385
         3.323
            585
              32
         1.183
                6
JUMLAH
         6.401
         3.155
         2.225
       11.781
         2.231
            221
         5.908
              18
Sumber : 1.  Bidang Penamas Kanwil Kementerian Agama Provinsi DIY
               2.  Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota se-Provinsi DIY
Dari data diatas kita dapat melihat bahwa masjid yang ada di yogyakarta adalah 440 masjid. Lalu dari seluruh populasi kami mengambil 4 masjid sebagai sampel. Yaitu, Masjid Darusalam (Manisrejo, Maguwoharjo, Kalasan Sleman/NU), Masjid Al-ikhlas (Samirono/NU),Masjid Safinaturrahmah (Sapen/Muhammadiyah) dan Masjid Al-wafa (Bantul/Muhammadiyah). Dari 4 masjid didapatkan data, ternyata  yang mempunyai takmir masjid perempuan hanya ada satu masjid saja, yaitu Masjid Al-Ikhlas samirono,  sedangkan tiga masjid lainnya didominasi oleh takmir masjid laki-laki. ( Masjid Safinatur Rohmah, Masjid Darussalam Manis Rejo Maguwoharjo dan masjid Al-waffa ) Memproblematisasi data terpilah, mengapa?
Dari 26 takmir ke empat masjid tersebut, jumlah takmir peremuan nya hanya ada 4 orang. Maka dapat kita simpulkan adanya ketimpangan yang terjadi  diantara jumlah takmir masjid laki-laki dan takmir masjid perempuan dalam sektor jumlah. Karena di masyarakat masih memiliki stigma negativ ( streotip ) terhadap wanita yang pulang malam sekalipun itu adalah takmir perepuan. Hal inilah yang membatasi dan justifikasi terhadap perempuan dalam hal ketakmiran.

B.     Wawancara
Di Masjid Al-ikhlas
Nama               : Nawawi
Tugas               : Takmir Masjid
Masjid Al-ikhlas berdiri pada tanggal bulan tahun
                               
1.      Hasil Observasi dan wawancara di Masjid Al-Ikhlas, Samirono
Di Masjid ini ada 14 pengurus laki-laki dan ada 5 pengurus perempuan, tugas dari pengurus laki-laki adalah membersihkan masjid, adzan, iqomah dan mengajar TPA, sedangakan tugas pengurus perempuan adalah membantu mengajar TPA, mengurus tentang pengajian ibu-ibu serta menjaga perpustakaan masjid. Pengurus laki-laki tinggal di Masjid, sedangkan perempuan tidak. Hal tersebut bertujuan meminimalisir tudingan negaif terhadap kepengurusan masjid.
Rekruitment Masjid ini tidak terbilang ketat karena perekrutan melalui via dari teman ke teman, akan tetapi juga mengutamakan orang yang mempunyai keahlian dibidangnya. Adanya kesenjangan takmir (Pengurus masjid) laki-laki dan perempuan dikarenakan budaya dan lingkungan kita yang lebih mementingkan laki-laki, budaya kita masih mempunyai banyak “label negatif” apabila ada perempuan yang pulang malam ataupun perempuan yang tinggal di Masjid.
Kegiatan Harian Di Masjid Al-ikhlas Samirono
Hari
Waktu
Kegiatan
Pengurus
Senin
Pagi-malam

Sore
·         Sholat Berjama’ah (Subuh-isya)
·         TPA

ü  Takmir lk

ü  Takmir lk & Pr
Selasa
Pagi-malam


Sore
Malam

Siang-sore
·         Sholat berjama’ah (Subuh-isya)
·         TPA
·         Pengajian Ibu-ibu
·         Perpustakaan masjid

ü  Takmir lk


ü  Takmir lk & Pr
ü  Takmir lk & Pr


ü  Takmir Pr
Rabu
Pagi-malam


Malam
·         Sholat berjama’ah (Subuh-isya)
·         Pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu

ü  Takmir Lk


ü  Takmir Lk
Kamis
Pagi-malam


Sore
Malam
·         Sholat berjama’ah (Subuh-isya)
·         TPA
·         Pengajian Bapak-bapak

ü  Takmir Lk



ü  Takmir Lk

Jum’at
Pagi-malam


Siang

Malam
·         Sholat berjama’ah (Subuh-isya)
·         Sholat jum’at & khutbah
·         Pengajian umum

ü  Takmir Lk


ü  Takmir Lk

ü  Takmir Lk

Sabtu
Pagi-malam


Sore

Malam
·         Sholat berjama’ah (Subuh-isya)
·         Pengajian umum
·         Pengajian kitab
ü  Takmir Lk


ü  Takmir Lk

ü  Takmir Lk

Minggu
Pagi
Pagi-malam


Malam
·         Kerja bakti
·         Sholat berjama’ah (Subuh-isya)
·         Pengajian umum
ü  Takmir Lk & Pr
ü  Takmir Lk


ü  Takmir Lk



2.      Hasil observasi dan wawancara di Masjid Al-Wafa,Bantul
Di Masjid Al-Wafa
Nama               : Bapak Jumali
Tugas               : Takmir Masjid  dan Pengurus masjid Al-Wafa
Di Masjid Al-Wafa ini ada 2 orang laki-laki yang menjadi takmir,dan tugas dari takmir disini mengajar ngaji anak-anak sekitar dan mengurus pengajian ibu-ibu yang diadakan setiap hari Selasa pagi dan malam,adapun pengajian yang diagendakan hari lain yaiu hari Minggu pagi dan malam,ada juga pengajian yang diagendakan untuk para remaja yaitu hari Kamis.Takmir di Masjid Al-Wafa disini direkrut dari warga sekitar Al-Wafa  yang memumpuni dan memadai untuk benar-benar menjadi takmir yang kompeten.Perekrutan dari takmir itu sendiri lebih memilih untuk mengambil takmir dari temen-temen mereka yang dirasa mempunyai kemampuan.Selain takmir di Masjid ini juga ada pengurus masjid yang berjumlah 4 orang ,dan pengurusnya bukan hanya dari daerah setempat tetapi juga dari luar dan  ada 3 orang mahasiswa yang menjadi pengurus masjid.
Daftar Kegiatan Masjid Al-Wafa
Hari

Waku
Kegiatan
Pengurus
Senin
      Pagi
      Sore
 
   Malam

·         -
·         TPA


·         Sholat Berjamaah

ü  Santri ponpes An-Nur
ü  Takmir
Selasa
      Pagi

     Malam
·         Pengajian ibu-ibu
·         Pengajian ibu-ibu
·         Sholat berjamaah
ü  Takmir

ü  Takmir

ü  Pengurus Masjid

Rabu
Pagi
Sore
·         -
·         TPA



·         Sholat berjamaah

ü  Santri PonPes An-Nur dan takmir
ü  Pengurus masjid
Kamis
Pagi

Malam

·         Pengajian Remaja Masjid
·         Sholat berjamaah
ü  Takmir


ü  Pengurus masjid


Jumat
Pagi

Siang

Malam
·         Pengajian warga
·         Jum’atan
·         Sholat berjamaah
·         Pengajian bapak2
ü  Takmir

ü  Takmir

ü  Pengurus masjid

ü  Takmir



3.      Hasil Observasi dan wawancara di Masjid Safinaturrohmah

a.       Memiliki 2 takmir laki-laki semua 

1.      Adam  Mustaqim
2.      Rizki Angga Putra

b.       Kegiatan yang ada di masjid tersebut hanya ada 2 bentuk kegiatan (TPA &pengajian)
NO
TPA
JUMBLAH SANTRI
HARI
PENGAJAR

1
TERDATA
AKTIVE
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
-MINGGU

-SELASA

-JUMAT
LAKI-LAKI
PEREMPUAN

90

40

15

25

8

9

17


NO



PENGAJIAN
JUMBLAH
JUMBLAH HARI
HARI
WAKTU

1
LAKI-LAKI
PEREMPUAN


1

MINGGU

07:00-

35

15-20
50-55



c.       Dan struktur kepengurusan nya ada

1.      Bpk. Drs.H. Asrori. MA. sebagai ketua takmir tersebut.
2.      Bpk. Heri Cahyono. Sebagai Sekretaris dan Bendahara di masjid tersebut

d.      pengrekrutan di saat memasuki ketakmiran masjid tersebut.

1.    Tes baca Al quran
2.    Seputar wawacara keagamaan
3.    Tes khobah jum’at
4.    Adzan dan Iqomah
5.   Tes Hapalan jus 30 nminimal

e.       tugas takmir di masjid tersebut

1.    Adzan dan Iqomah di usahakan terisi dalam solat 5 waktu
2.    Bersih-bersih masjid
3.  Mengantikan khotbah dikalah petugasnya berhalangan hadir
 4.   Mengajar TPA

4.      Hasil Observasi dan wawancara di Masjid Darussalam
a)      Memiliki 2 takmir laki-laki semua 
          1. Minardi
          2. Rosadi
b)      Kegiatan yang ada di masjid tersebut hanya ada 2 bentuk kegiatan (TPA & pengajian)

NO
TPA
JUMBLAH SANTRI
HARI
PENGAJAR

1
TERDATA
AKTIVE
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
-ENIN

-RABU

-SABTU
LAKI-LAKI
PEREMPUAN

80

40

15-17

30-35

2

5

7

NO




PENGAJIAN
JUMBLAH
HARI PENGAJIAN
WAKTU

1
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
LAKI-LAKI
PERMPUAN



19:00-

5-8

10-14

-SABTU

-SENIN

-SELASA


-JUMAT

-MINGGU

50-55




c)       struktur kepengurusan

             1.   Bpk. Tartono. sebagai ketua takmir darussalam
             2.   Bpk. Edianan . Sebagai Sekretaris di masjid darussalam
             3.   Bpk. Joko Sudiyanto. Sebagai sekretaris di masjid darussalam




BAB III
PEMBAHASAN MENURUT GENDER DAN KEADILAN SOSIAL
1.      Dilihat dari APKM

a)      Dalam Perekrutan takmir masjid
Dari hasil wawancara dan observasi kita dapat memahami dari segi akses (A) rekruitment masjid memang ada ketimpangan. Pasalnya pengurus masjid lebih memprioritaskan peluang laki-laki daripada peluang perempuan. Laki-laki diberi peluang 70 % sedangkan perempuan hanya 30% saja. Hal tersebut dikarenakan peran laki-laki dalam masjid lebih dominan. Kegiatan masjid lebih banyak membutuhkan tenaga laki-laki daripada perempuan, oleh karenanya rekruitment takmir masjidpun lebih banyak disampaikan kepada laki-laki.
Dari segi partisipasi (P) laki-laki mempunyai porsi lebih banyak daripada perempuan, karena memang kegiatan dalam masjid lebih banyak membutuhkan tenaga laki-laki.
Dari segi kontrol (K) perempuan lebih dominan mempunyai kontrol yang ketat, seperti kebanyakan masyarakat menganggap jika ada perempuan yang pulang malam maka perempuan tersebut dianggap menyalahi aturan masyarakat. Lain jika laki-laki yang pulang malam dari kegiatannya, mereka cenderung dianggap biasa saja.
Dari segi manfaat (M) dalam rekruitment masjid, laki-laki mempunyai manfaat yang lebih besar dibandingkan perempuan.

b)      Dalam kegiatan kepengurusan (Ketakmiran) Masjid

Dilihat dari akses (A) kegiatan ketakmiran masjid lebih cenderung gampang untuk laki-laki, karena kebanyakan kegiatan masjid takmir laki-laki yang mengaturnya. Sedangkan bagi takmir perempuan, mereka tidak bisa mengakses semua kegiatan didalam masjid, karena pekerjaan untuk mereka terbatas.
Dilihat dari partisipasi (P) kegiatan ketakmiran masjid sumbangsih takmir laki-laki juga lebih banyak. Sedangakan takmir perempuan hanya berpartisipasi 40% dari seluruh kegiatan masjid.
Dilihat dari kontrol (K) dalam kegiatan keakmiran masjid, laki-laki cenderung lebih bebas, dan perempuan lebih ketat. Pasalnya, pmasyarakat mempunyai stigma yang tidak baik kepada perempuan yang pulang terlalu malam, walaupun dia berpartisipasi didalam masjid.
Dilihat dari manfaat (M) bagi takmir masjid dan perempuan memang hampir sama rata, karena baik takmir laki-laki maupun perempuan mereka sma-sama boleh mempergunakan fasilitas yang ada dimasjid, seperti perputakaan masjid dan sama-sama bileh mengajar TPA.

2.      Dilihat dari keadilan

Dari segi keadilan memang ada kesenjangan antara peran laki-laki dan perempuan didalam kepengurusan (takmir) masjid, karena sebagian besar yang memperoleh manfaat dan akses yang banyak dalam takmir masjid adalah laki-laki, peran dan menfaat yang didapatkan perempuan hanya 30% saja. Hal tersebut tentu saja ada ketidakadilan bagi perempuan, karena perempuan pun harusnya memperoleh akses dan manfaat yang sama dalam ketakmiran masjid-masjid di Indonesia, khusunya masjid di Yogyakarta.



Daftar pertanyaan
1.      Ada berapa jumlah takmir laki-laki di Masjid ini?
2.       Ada berapa jumlah takmir perempuan di Masjid ini?
3.      Apasaja kegiatan yang ada di Masjid ini?
4.      Bagaimana struktur kepengurusan di Masjid ini?
5.      Dalam rekruitment takmir di Masjid ini apasaja persyaratan atau kriterianya?
6.      Apa saja tugas/peran takmir laki-laki di Masjid ini?
7.      Jika ada takmir perempuan Apa saja tugas/peran takmir tersebut?



BAB IV
PENUTUP DAN KESIMPULAN

Dari penelitian yang kami lakukan, kami mempunyai kesimpulan bahwa ada kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam kepengurusan (ketakmiran) Masjid-masjid di Yogyakara. Karena yang mempunyai akses, partisipasi, kontrol dan manfaat dari masjid dan kepengurusan masjid mayoritas adalah laki-laki dan perempuan hanya minoritasnya saja. Kami melihat ada ketidakadilan dalam ketakmiran masjid, karena didalam perauran masjid juga menganggap bahwa perempuan itu hanya berperan 35% dari seluruh kegiatan masjid. Karena dalam budaya kita perempuan tidak boleh pulang laru malam walaupun itu karena kepentingan masjid. 
 Demikianlah hasil observasi melalui pengamatan dan wawancara kami kepada para petugas  ta’mir di beberapa masjid di kota yogyakarta. Hasilnya kami dapatkan data-data tentang jumlah masjid di Yogyakara yang emudian kami ambil beberapa masjid yang kami jadikan sampel peneliyian, ahirnya kami mendapakan beberapa data tenang jadwal bulan romadhan, data cara rekruitment petugas ta’mir, data jumlah pengurus majid dan kegiatan-kegiatan di masjid. Kami akui hasil ini masih jauh dari data sempurna namun kami berharap semoga hasil yang telah kami dapatkan ini dapat memberikan sumbangsih dan manfaat informasi seputar keta’miran bagi yang membutuhkan. Untuk menanggulangi kesenjangan tersebut kami mempunyai usulan sebaiknya stigma negativ ( stereotip ) masyarakat terhadap takmir perempuan itu dihilangakan, agar tidak terjadi ketimpangan dalam sektor jumlah takmir antara laki-laki dan perempuan.







0 komentar:

Poskan Komentar